Aladeen The Dictator dalam Dunia Nyata

Satire dari film The Dictator untuk membaca relasi kekuasaan, ilmu pengetahuan, serta kritik Michel Foucault dan Noam Chomsky.

 

Ilustrasi seorang diktator menolak penjelasan ilmuwan sambil memegang gambar kartun sebagai simbol satire tentang relasi kekuasaan dan pengetahuan.

Saya dulu mengira The Dictator hanyalah film komedi. Isinya seorang diktator yang tolol, pejabat-pejabat penjilat, dan serangkaian adegan absurd yang membuat kita tertawa tanpa perlu berpikir terlalu keras. Namun, semakin tua umur saya, semakin saya curiga: jangan-jangan film itu bukan komedi. Jangan-jangan itu dokumenter yang kebetulan dibungkus lelucon.

Ada satu adegan yang selalu kembali mengganggu ingatan.

Seorang ilmuwan nuklir bernama Nadal sedang menjelaskan kepada Aladeen bahwa bentuk hulu ledak tidak menentukan kekuatan ledaknya. Penjelasannya sederhana, ilmiah, dan masuk akal. Namun Aladeen menolak. Baginya, rudal harus runcing. Lebih gagah. Lebih menakutkan. Ketika Nadal bertanya dari mana pengetahuan itu berasal, jawabannya lebih lucu daripada seluruh adegan sebelumnya: dari kartun.

Kita tertawa karena merasa tidak mungkin ada pemimpin yang lebih percaya kartun daripada ilmuwan.

Lalu kita mematikan televisi, membuka media sosial, membaca berita, dan perlahan menyadari bahwa yang berbahaya bukanlah orang yang belajar dari kartun. Yang berbahaya adalah ketika kekuasaan berhasil membuat kartun terdengar lebih meyakinkan daripada ilmu pengetahuan.

Michel Foucault mungkin akan tersenyum melihat adegan itu. Baginya, pengetahuan tidak pernah benar-benar netral. Pengetahuan selalu berjalan berdampingan dengan kekuasaan. Siapa yang memiliki kuasa, sering kali juga memiliki kemampuan menentukan mana yang disebut pengetahuan, siapa yang layak disebut ahli, dan pendapat mana yang dianggap pantas didengar.

Maka persoalannya bukan lagi apakah seorang penguasa memahami ilmu atau tidak. Persoalannya adalah apakah ia masih bersedia membiarkan ilmu mengoreksi dirinya.

Sebab sejak lama kekuasaan memiliki godaan yang sama: merasa tidak lagi membutuhkan koreksi.

Di titik itu, para ahli tetap diundang ke rapat. Tetap difoto. Tetap disebut dalam pidato. Tetapi fungsi mereka berubah. Mereka tidak lagi diminta menguji sebuah gagasan. Mereka diminta mencari alasan agar gagasan yang sudah diputuskan tampak ilmiah.

Ilmu berubah menjadi dekorasi.

Noam Chomsky menyebut cara kerja seperti ini sebagai manufacturing consent—memproduksi persetujuan. Persetujuan tidak selalu dibangun melalui ancaman atau sensor. Kadang ia lahir dari narasi yang diulang terus-menerus sampai masyarakat berhenti bertanya. Yang semula berupa klaim perlahan diterima sebagai kenyataan. Yang semula pantas diperdebatkan berubah menjadi sesuatu yang dianggap sudah selesai.

Maka ruang publik tidak lagi dipenuhi pertanyaan, melainkan pengulangan.

Optimisme diulang.

Keberhasilan diulang.

Visi diulang.

Sementara kritik perlahan berubah status: bukan lagi bagian dari demokrasi, melainkan dianggap gangguan terhadap optimisme.

Padahal sejarah kemajuan manusia justru lahir dari orang-orang yang berani mengatakan, "Mungkin kita keliru."

Ilmu pengetahuan tumbuh dari keraguan. Kekuasaan sering tumbuh dari kepastian. Ketika keduanya bertemu, selalu ada godaan agar keraguan disingkirkan demi menjaga wibawa.

Di sinilah saya mulai mengerti mengapa adegan Aladeen terasa semakin menakutkan.

Masalahnya bukan karena ia tidak mengerti nuklir.

Masalahnya adalah ia merasa tidak perlu mengerti.

Lebih buruk lagi, seluruh ruangan dipaksa mengikuti keyakinannya.

Barangkali memang beginilah wajah kekuasaan modern. Ia tidak selalu memenjarakan para ahli. Ia cukup membuat mereka terdengar tidak penting. Ia tidak perlu membungkam kritik. Ia cukup menenggelamkannya dalam banjir slogan, pencitraan, dan optimisme yang diproduksi tanpa henti.

Akhirnya masyarakat tidak lagi bertanya, "Apakah ini benar?"

Mereka hanya bertanya, "Siapa yang mengatakan?"

Ketika ukuran kebenaran berpindah dari isi argumen kepada identitas pembicara, saat itulah nalar mulai kehilangan tempatnya.

Saya jadi berpikir, mungkin Aladeen tidak pernah benar-benar tinggal di Republik Wadiya. Ia berpindah-pindah. Kadang muncul di istana, kadang di kantor, kadang di kampus, bahkan mungkin di organisasi yang mengaku paling demokratis. Ia hadir setiap kali kekuasaan merasa lebih tinggi daripada pengetahuan dan menganggap kritik sebagai ancaman, bukan sebagai vitamin.

Karena itu, ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukanlah kekurangan orang pintar. Bangsa ini tidak pernah miskin akademisi, peneliti, ataupun pakar. Yang sering langka justru kerendahan hati untuk mendengarkan mereka.

Mungkin itulah satire paling tajam dari The Dictator. Kita dibuat tertawa melihat seorang diktator belajar nuklir dari kartun. Padahal yang sedang ditertawakan bukan Aladeen semata. Yang sedang ditertawakan adalah kemungkinan bahwa suatu hari nanti, di dunia nyata, kita berhenti bertanya apakah sebuah kebijakan lahir dari pengetahuan atau hanya dari keyakinan yang kebetulan sedang memegang kekuasaan.

Dan jika hari itu benar-benar datang, mungkin kita masih akan tertawa.

Sebab komedi memang selalu terdengar lucu, sampai kita sadar bahwa kita sedang menjadi bagian dari ceritanya.


© Ngudar Rasa
Ditulis oleh: Khafidh