Jika BBM Investasi Asap, Apakah MBG Investasi Jamban?
Zaman berubah, pemimpin berganti, tapi satu hal tampaknya cukup konsisten: logika anggaran kita yang gemar sekali habis dalam sekali telan.
Beberapa tahun lalu, publik disuguhi narasi yang terdengar sangat rasional tentang pemangkasan subsidi BBM. Kalimatnya terdengar cerdas dan sulit dibantah: membakar ratusan triliun rupiah di jalan raya hanyalah investasi menjadi asap. Rakyat pun pelan-pelan diyakinkan bahwa pengorbanan itu perlu, demi sesuatu yang lebih “produktif” bernama pembangunan.
Narasi itu bekerja dengan baik. Ia sederhana, mudah dicerna, dan terasa logis. Siapa yang mau membela sesuatu yang secara metaforis saja sudah berubah menjadi asap? Maka, perlahan tapi pasti, publik menerima bahwa penghematan adalah bentuk kedewasaan, meski konsekuensinya harus dibayar lewat harga yang makin terasa di kantong.
Hari ini, setelah bensin dilepas ke mekanisme pasar dan berbagai pungutan ikut menyesuaikan, kita diperkenalkan pada program baru yang tak kalah ambisius: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika dulu subsidi BBM dikritik karena sifatnya yang konsumtif dan cepat lenyap, maka menarik juga jika logika yang sama dipakai untuk melihat program ini. Uang negara masuk dapur, dimasak, dibagikan, dimakan, lalu dicerna. Dalam hitungan jam, siklus itu selesai. Secara biologis, hasil akhirnya pun tidak jauh-jauh dari urusan septik tank.
Tentu saja, negara tidak sesederhana itu berpikir. Program ini dibungkus sebagai investasi jangka panjang: memperbaiki gizi, mencegah stunting, dan menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi masa depan. Secara medis, argumen ini masuk akal. Perut memang sering kali menjadi pintu masuk bagi kepala. Anak yang lapar sulit diajak berpikir jauh, apalagi diminta bersaing di dunia yang makin kompleks.
Namun persoalannya mungkin bukan sekadar pada “apa yang dimakan”, melainkan “apa yang dipikirkan setelahnya”. Sejarah memberi banyak contoh bahwa keterbatasan pangan tidak selalu identik dengan kemiskinan gagasan. Banyak generasi lahir dari kondisi serba pas-pasan, tetapi tumbuh dalam ekosistem pendidikan yang disiplin, keras, dan yang paling penting, jujur dalam memberi ruang pada kemampuan.
Artinya, makanan bisa menjadi fondasi, tetapi bukan satu-satunya penentu arah. Tanpa ekosistem yang sehat, fondasi itu berdiri di atas tanah yang rapuh.
Di titik ini, ironi mulai terasa. Kita begitu serius mengurus menu makan siang di dalam kelas, tetapi sering kali abai pada siapa yang berdiri di depan kelas itu. Guru honorer masih berjuang dengan upah yang jauh dari layak, ruang belajar di banyak tempat masih bocor, dan perpustakaan lebih mirip gudang buku usang daripada ruang hidup gagasan.
Ada semacam ketimpangan perhatian. Yang terlihat kasat mata mendapat prioritas, sementara yang bekerja diam-diam justru tertinggal. Padahal, kualitas pendidikan tidak lahir dari piring makan semata, tetapi dari interaksi panjang antara guru, murid, dan lingkungan belajar yang mendukung.
Memperbaiki kualitas pendidikan adalah pekerjaan yang tidak instan. Ia tidak bisa difoto hari ini untuk dilaporkan besok. Ia butuh waktu, konsistensi, dan yang paling merepotkan, tidak selalu menguntungkan secara politik dalam jangka pendek.
Sebaliknya, memberi makan jauh lebih mudah dipahami. Hasilnya terlihat hari itu juga. Ada piring, ada anak-anak, ada dokumentasi. Sebuah program yang secara visual dan emosional sangat siap konsumsi. Ia bekerja bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi juga sebagai citra.
Di sisi lain, besarnya skala program seperti ini juga membuka ruang pertanyaan yang wajar. Dalam sistem yang belum sepenuhnya bersih, aliran anggaran yang panjang dari pengadaan hingga distribusi selalu menyisakan celah. Bukan berarti pasti bermasalah, tetapi cukup untuk membuat publik bertanya: seberapa utuh nilai itu sampai ke piring? Dan berapa banyak yang menguap di tengah jalan sebelum sempat dimakan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terdengar sinis, tetapi justru lahir dari pengalaman panjang melihat bagaimana kebijakan besar sering kali tidak sepenuhnya utuh ketika menyentuh realitas.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak sedang memilih antara memberi makan atau tidak. Persoalannya lebih pada prioritas dan keseimbangan. Memberi makan tentu penting, tetapi membangun kualitas berpikir jauh lebih menentukan.
Memberi makan tanpa membenahi kualitas ruang belajar dan kesejahteraan pengajarnya terasa seperti mengisi bahan bakar pada mesin yang belum diperbaiki. Energi tetap habis, tetapi arah tidak benar-benar berubah.
Dan seperti banyak hal lain dalam kebijakan publik, yang paling sering terjadi bukanlah keputusan yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar, melainkan pilihan yang terasa masuk akal di permukaan, tetapi menyisakan pertanyaan panjang setelahnya.
Minimal, kita jadi belajar satu hal: bahwa dalam negeri ini, sesuatu yang disebut “investasi” kadang memang tidak selalu tinggal lama. Ia datang, diproses, lalu hilang, menyisakan laporan yang rapi, dan rutinitas yang terus berjalan seperti biasa.
Ditulis oleh: Pemilik Blog

Join the conversation