Guru RA: Ketika "Ikhlas" Tak Bisa Ditukar dengan Beras
Ngudarrasa.web.id—Setiap kali mendengar kalimat, "Menjadi guru RA itu ladang pahala, bentuk pengabdian yang mulia," saya tidak pernah merasa terganggu. Yang membuat saya gelisah justru ketika kalimat itu berhenti di sana. Sebab, terlalu sering kata-kata seperti pengabdian, ibadah, dan ikhlas perlahan bergeser fungsi. Dari semula menjadi nilai spiritual yang luhur, ia berubah menjadi alasan yang dianggap cukup untuk memaklumi honor yang kecil, gaji yang terlambat, atau fasilitas belajar yang jauh dari layak.
Padahal, tidak ada hubungan logis antara keikhlasan seseorang dengan kewajiban lembaga untuk memperlakukannya secara adil.
Guru Raudhatul Athfal (RA) bukan sedang meminta kemewahan. Mereka hanya berharap pekerjaan yang setiap hari mereka lakukan dihargai dengan cara yang manusiawi. Harapan itu terdengar sederhana. Namun, di banyak tempat, justru itulah yang terasa paling sulit diwujudkan.
Setiap pagi mereka menyambut anak-anak usia empat atau lima tahun dengan senyum yang nyaris tak boleh pudar. Mereka menenangkan tangisan pertama ketika anak ditinggal orang tuanya, mengajarkan doa-doa pendek, membimbing tangan mungil memegang pensil, melerai rebutan mainan, mengajarkan meminta maaf, berbagi, hingga mengenali emosi. Mereka bukan sekadar mengajar membaca atau berhitung. Mereka sedang membentuk manusia.
Ironisnya, pekerjaan yang begitu mendasar bagi masa depan bangsa justru sering diperlakukan seolah-olah pekerjaan sambilan yang cukup dibayar dengan pujian.
Merawat Anak, Siapa Merawat Gurunya?
Filsuf pendidikan Nel Noddings melalui gagasan Ethics of Care mengingatkan bahwa inti pendidikan bukan pertama-tama soal memindahkan pengetahuan, melainkan membangun relasi kepedulian (care). Anak belajar bukan hanya karena materi yang disampaikan, tetapi karena ia merasa diterima, diperhatikan, dan diasuh.
Kalau gagasan itu kita terima, maka guru RA berada di jantung pendidikan. Mereka adalah para pekerja care. Mereka merawat tumbuhnya karakter sebelum anak mengenal rumus matematika atau teori sains. Mereka mengajari anak meminta maaf, menunggu giliran, berbagi, hingga memahami bahwa menangis bukanlah sesuatu yang memalukan.
Sayangnya, di sinilah paradoks itu muncul. Sistem pendidikan begitu rajin meminta guru RA menunjukkan kepedulian kepada anak-anak, tetapi sering kali lupa menunjukkan kepedulian kepada guru-guru itu sendiri.
Padahal, mengasuh anak usia dini bukan pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan energi fisik, kesabaran, kestabilan emosi, kreativitas, sekaligus ketelatenan. Tidak semua orang mampu bertahan berjam-jam menghadapi puluhan anak yang sedang belajar mengenal dunia. Namun pekerjaan sebesar itu masih sering dihargai seolah tidak membutuhkan kompetensi apa pun.
Bukan Sekadar Soal Anggaran
Harus diakui, tidak semua persoalan berasal dari satu pihak. Banyak RA swasta melayani masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas sehingga Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang diterima pun relatif kecil. Mereka juga bergantung pada Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang besarannya dihitung berdasarkan jumlah peserta didik. Semakin sedikit murid, semakin sempit pula ruang gerak keuangan lembaga.
Namun persoalan di lapangan tidak berhenti pada keterbatasan dana.
Di banyak tempat, guru juga harus berhadapan dengan tata kelola yang tidak transparan. Pengajuan alat permainan edukatif, perbaikan ruang kelas, atau kegiatan belajar di luar sekolah sering kali tersendat oleh birokrasi internal yayasan. Tidak sedikit guru yang akhirnya membeli sendiri kebutuhan kelas menggunakan uang pribadi karena tidak tega melihat anak-anak belajar dengan fasilitas yang kurang memadai.
Yang menyedihkan bukan hanya karena mereka harus tombok.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika pengorbanan itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika guru mulai mempertanyakan keterlambatan honor atau minimnya fasilitas, jawaban yang muncul kadang bukan penjelasan mengenai kondisi keuangan, melainkan kalimat yang terdengar sangat saleh.
"Kita sama-sama ibadah."
"Ikhlaskan saja, nanti Allah yang membalas."
Kalimat-kalimat itu memang indah. Namun keindahan bahasa tidak selalu identik dengan keadilan.
Jangan Memeras Kata "Ikhlas"
Ikhlas adalah urusan vertikal antara manusia dengan Tuhannya. Ia lahir dari kebebasan hati, bukan dari tekanan keadaan. Karena itu, keikhlasan tidak boleh berubah menjadi instrumen pengelolaan lembaga.
Guru RA memang mengajar dengan ikhlas. Akan tetapi, mereka tidak seharusnya digaji dengan kata "ikhlas".
Ketika "ikhlas" dipakai untuk menjelaskan honor yang tak kunjung dibayar, sarana yang terus ditunda, atau hak-hak guru yang diabaikan, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan guru. Yang ikut dirusak adalah makna keikhlasan itu sendiri.
Keikhlasan adalah kebajikan. Ia bukan mata uang.
Keikhlasan adalah nilai spiritual. Ia bukan strategi efisiensi anggaran.
Memanusiakan Guru untuk Memanusiakan Pendidikan
Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi, yakni proses memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar menghasilkan lulusan, melainkan membangun martabat manusia melalui relasi yang adil.
Kalau demikian, ada pertanyaan yang patut kita renungkan.
Bagaimana pendidikan hendak memanusiakan anak-anak jika guru yang menjalankannya justru diperlakukan tanpa penghargaan yang memadai?
Bagaimana kita berbicara tentang karakter, kasih sayang, dan akhlak, sementara orang-orang yang setiap hari menanamkan nilai-nilai itu masih harus menerima keterlambatan honor sebagai sesuatu yang "lumrah"?
Kontradiksi inilah yang sering luput dari perhatian.
Kita begitu bangga berbicara tentang golden age anak usia dini, tetapi lupa bahwa masa emas itu tidak pernah lahir sendirian. Ia dibangun oleh guru-guru yang setiap hari menghabiskan tenaga, pikiran, dan kesabaran untuk mendampingi anak-anak bertumbuh.
Yang Diminta Bukan Kemewahan
Barangkali persoalan terbesar kita bukanlah kecilnya honor guru RA.
Persoalan terbesar kita adalah cara kita memberi harga kepada pekerjaan yang paling menentukan masa depan manusia.
Kita memuji guru RA sebagai pejuang pendidikan. Kita menyebut mereka pahlawan. Kita meminta mereka sabar, ikhlas, dan penuh kasih. Akan tetapi, pujian-pujian itu terlalu sering berhenti sebagai kata-kata.
Padahal penghormatan yang sesungguhnya bukan diwujudkan melalui tepuk tangan atau doa semata, melainkan melalui tata kelola yang transparan, fasilitas yang layak, dan kesejahteraan yang tidak terus-menerus dinegosiasikan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memeras kata ikhlas.
Sebab yang dibutuhkan guru RA bukan pengurangan nilai spiritual, melainkan penambahan rasa keadilan.
Mereka tidak sedang meminta dipuja.
Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang pekerjaannya layak dihormati.
Karena pekerjaan mereka bukan sekadar mengajarkan anak membaca atau berhitung. Mereka sedang merawat tumbuhnya manusia.
Dan jika pekerjaan sebesar itu masih terus kita hargai seadanya, mungkin yang sesungguhnya sedang kita murahkan bukanlah gaji mereka, melainkan martabat kita sendiri sebagai masyarakat yang mengaku menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun peradaban.
Ditulis oleh: Khafidh

Join the conversation