Laku Sufi Pavel Durov: Pendiri Telegram yang Tak Mau Dimiliki Hartanya

Pavel Durov, Erich Fromm, dan Imam Al-Ghazali: ketika kebebasan ternyata lebih berharga daripada sekadar memiliki harta.

Ketika Tucker Carlson mewawancarai Pavel Durov, ada satu bagian yang justru terasa lebih menarik daripada pembicaraan soal teknologi, bisnis, atau masa depan Telegram.

Carlson tampak heran mengetahui bahwa Durov—pendiri Telegram yang masih memiliki seratus persen saham perusahaannya, dengan lebih dari satu miliar pengguna di seluruh dunia dan cadangan kas bernilai ratusan juta dolar—tidak memiliki rumah pribadi, jet, yacht, ataupun properti mewah lainnya.

"Kenapa?" tanya Carlson.

Jawaban Durov sederhana.

"Prioritas utama dalam hidup saya adalah kebebasan. Begitu Anda mulai membeli barang-barang, itu akan mengikat Anda pada satu lokasi fisik."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar gaya hidup minimalis. Yang sedang dipertaruhkan bukan jumlah harta, melainkan kebebasan.

Di titik itulah percakapan tersebut berhenti menjadi kisah seorang miliarder. Ia berubah menjadi renungan tentang hubungan manusia dengan harta, kepemilikan, dan kemerdekaannya sendiri.

Barang Tidak Pernah Datang Sendirian

Selama ini kita terbiasa memandang kepemilikan sebagai ukuran keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin mapan seseorang dianggap. Rumah bertambah, kendaraan bertambah, investasi bertambah, properti bertambah.

Cara berpikir itu tidak sepenuhnya salah. Yang sering luput adalah kita hanya menghitung harga saat membeli, tetapi lupa menghitung biaya yang terus mengikuti setelah kepemilikan itu terjadi.

Rumah tidak berhenti menjadi rumah setelah akad selesai. Ia berubah menjadi daftar panjang pekerjaan: atap yang bocor, cat yang mengelupas, halaman yang harus dibersihkan, pajak yang harus dibayar, hingga rasa cemas ketika rumah ditinggalkan terlalu lama.

Mobil pun demikian. Kita tidak hanya membeli kendaraan, tetapi juga membeli biaya servis, asuransi, pajak tahunan, dan sedikit kekhawatiran setiap kali mendengar suara mesin yang terasa berbeda.

Barang ternyata tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa pekerjaan.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula perhatian yang harus disediakan. Sedikit demi sedikit, waktu kita habis untuk merawat apa yang sebelumnya kita beli.

Maka mungkin benar jika dikatakan bahwa pada titik tertentu bukan lagi kita yang memiliki barang. Barang itulah yang mulai memiliki kita.

Dari To Have Menuju To Be

Gagasan semacam ini mengingatkan pada pemikiran Erich Fromm dalam bukunya To Have or To Be?. Fromm membedakan dua orientasi hidup manusia.

Yang pertama adalah to have, yaitu kehidupan yang berpusat pada apa yang berhasil dimiliki. Yang kedua adalah to be, kehidupan yang lebih menekankan proses menjadi manusia: berpikir, mencipta, mencintai, dan bertumbuh.

Bagi Fromm, masyarakat modern terlalu sibuk mengumpulkan kepemilikan hingga identitas seseorang perlahan diukur dari apa yang ia punya, bukan dari siapa dirinya.

Akibatnya, semakin banyak yang dikumpulkan, semakin besar pula rasa takut kehilangannya.

Barangkali inilah sebabnya banyak orang merasa lelah bahkan setelah semua target hidupnya tercapai. Mereka berhasil memiliki lebih banyak hal, tetapi justru kehilangan ruang untuk menikmati semuanya.

Laku yang Terasa "Nyufi"

Di sinilah saya justru teringat pada salah satu pembahasan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Dzamm al-Mal wa al-Bukhl, bagian dari mahakaryanya, Ihya' 'Ulum al-Din.

Kitab tersebut bukanlah ajakan membenci kekayaan. Al-Ghazali tidak pernah mengatakan bahwa harta adalah sesuatu yang buruk. Yang beliau kritik adalah ketika harta berpindah dari tangan ke dalam hati; ketika manusia tidak lagi mengendalikan hartanya, melainkan dikendalikan olehnya.

Dalam tradisi tasawuf, keadaan seperti itu dekat dengan konsep zuhud. Zuhud bukan berarti anti-kekayaan atau memuliakan kemiskinan. Zuhud adalah kemampuan menjaga jarak batin terhadap apa yang dimiliki. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai mengambil alih hati.

Di titik inilah laku Pavel Durov terasa sangat "nyufi".

Tentu bukan dalam arti bahwa Durov adalah seorang sufi atau sedang menjalankan praktik tasawuf. Itu adalah dua hal yang berbeda. Namun, cara pandangnya tentang kepemilikan memiliki gema yang menarik dengan gagasan zuhud: menolak membiarkan harta mengatur arah hidup.

Mungkin inilah salah satu contoh zuhud dalam kehidupan sekuler. Bukan karena seseorang meninggalkan dunia, melainkan karena ia menolak diperbudak oleh dunia.

Harga yang Tidak Pernah Tertulis

Pilihan hidup seperti itu tentu bukan satu-satunya jalan. Tidak semua orang harus hidup tanpa rumah atau kendaraan. Bahkan memiliki rumah untuk keluarga bisa menjadi bentuk tanggung jawab yang mulia.

Namun, Durov setidaknya mengajukan satu pertanyaan yang layak kita renungkan.

Berapa banyak waktu, perhatian, dan ketenangan yang diam-diam kita bayarkan demi menjaga semua yang telah kita kumpulkan?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan di zaman ketika yang kita miliki bukan hanya benda-benda. Hari ini kita juga mengumpulkan pengikut media sosial, jabatan, reputasi, citra diri, bahkan validasi dari orang-orang yang mungkin tidak pernah benar-benar kita kenal.

Dan semua itu juga membutuhkan perawatan.

Konten harus terus dibuat.

Popularitas harus terus dipelihara.

Opini harus terus dijaga.

Sedikit demi sedikit, hidup kita habis untuk mempertahankan apa yang semula kita kira akan membebaskan.

Barangkali kebebasan memang tidak ditentukan oleh sedikit atau banyaknya harta. Kebebasan ditentukan oleh siapa yang akhirnya memegang kendali.

Apakah kita masih mengendalikan kepemilikan kita?

Ataukah kepemilikan itulah yang, tanpa kita sadari, telah mengendalikan hidup kita?

Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari Pavel Durov. Bukan tentang bagaimana menjadi miliarder. Melainkan bagaimana tetap merdeka ketika dunia memberi kita kesempatan untuk memiliki lebih banyak.

Karena boleh jadi, sejak lama kita mengira sedang mengumpulkan harta. Padahal diam-diam harta itulah yang sedang mengumpulkan hidup kita, sedikit demi sedikit, hingga perhatian, waktu, dan kebebasan kita habis untuk menjaganya.


© Ngudar Rasa
Ditulis oleh: Khafidh