Grebeg Jalan Berlubang

Kirab pusaka Ponorogo 2026 di tengah jalan rusak dan tambang ilegal, ironi antara kebanggaan budaya dan realitas sehari-hari.

P onorogo tahun 2026 ini seperti sedang memainkan sebuah irama yang ganjil. Di satu sisi, dada membusung bangga melihat tiga pusaka—Songsong Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Chinde Puspito—diarak megah membelah kota, merayakan status baru dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Namun, begitu rombongan kirab lewat dan asap dupa mulai menghilang, realitas segera mengambil alih. Tepat di bawah keagungan pusaka-pusaka itu, aspal jalan masih setia dengan wataknya: berlubang, bergelombang, dan tak banyak berubah.

Kita patut mengapresiasi gerak cepat pemerintah daerah yang menambal Jalan Batoro Katong menjelang hari H. Ini bukti bahwa birokrasi kita peduli pada kenyamanan. Tentu saja, kenyamanan mereka yang duduk di atas kereta kencana.

Perkara jalan di luar rute kirab yang masih seperti permukaan bulan, mungkin bukan kelalaian. Bisa jadi itu semacam fasilitas tambahan—agar warga tetap waspada, tidak mengantuk, dan terlatih bermanuver. Tidak berlebihan jika dikatakan, refleks pengendara Ponorogo hari ini sudah setara dengan kelincahan penari Reog.

Namun, panggung komedi terbaik tahun ini tampaknya tetap dimenangkan oleh para wakil rakyat di DPR.

Di tengah meriahnya perayaan, mereka mendadak terkejut mengetahui adanya tambang pasir ilegal yang beroperasi bebas. Sebuah penemuan yang begitu menggetarkan, seolah selama ini truk-truk tronton bermuatan pasir itu tidak pernah melintas di depan mata.

Kita tentu harus maklum. Barangkali truk-truk tersebut memang dilengkapi teknologi siluman. Mereka bergerak tanpa terlihat, meski jejaknya jelas: jalan ring dalam kota yang hancur perlahan.

Warga sudah lama bersuara. Bahkan sampai menanam pohon pisang di tengah jalan sebagai penanda luka. Tapi rupanya semua itu belum cukup keras untuk membangunkan mereka yang seharusnya mendengar.

Lalu pada suatu hari, di bawah sorot kamera, kesadaran itu datang juga.

“Lho, ternyata ada tambang ilegal?”

Sebuah drama yang nyaris sempurna. Semua tahu, semua melihat, tapi semua juga sepakat untuk pura-pura terkejut pada waktu yang tepat.

Akhirnya, sebagai rakyat yang baik, tugas kita sederhana: merawat kebanggaan budaya di panggung internasional, dan merawat suspensi kendaraan di jalanan lokal.

Kita membayar pajak untuk membangun jalan. Jalan dihancurkan oleh truk tambang ilegal. Dan tambangnya baru disadari setelah jalannya habis.

Selamat menikmati Grebeg Suro 2026.

Pusaka mungkin hanya dikirab setahun sekali. Tapi ritual menghindari lubang dan bernegosiasi dengan truk pasir adalah ibadah harian yang harus dijalani dengan penuh kesabaran.


© Ngudar Rasa
Ditulis oleh: Pemilik Blog