Saat Sawah Ikut Dikomando
Ada pemandangan yang belakangan terasa biasa saja, padahal kalau dipikir-pikir cukup menggelitik. Di sawah, di antara lumpur, pematang, dan rumpun padi, mulai sering terdengar istilah-istah yang biasanya lebih akrab di lingkungan barak. Ada batalyon, komando, target, hingga operasi ketahanan pangan.
Barangkali memang zamannya sudah berubah. Sawah tidak lagi dipandang sekadar tempat orang menanam padi, melainkan juga medan yang harus diamankan. Demi ketahanan pangan, negara mengerahkan satuan-satuan dengan nama yang gagah. Ada semangat, ada disiplin, ada target yang harus tercapai.
Melihat pemandangan seperti itu, entah mengapa ingatan saya melayang pada satu istilah Jawa yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu: kami tentaranen.
Dalam khazanah bahasa Jawa, awalan kami- menggambarkan keadaan ketika seseorang seperti "dikuasai" oleh sesuatu hingga kehilangan dirinya sendiri. Bukan benar-benar menjadi sesuatu itu, tetapi cara berpikir, cara bertindak, bahkan cara memandang dunia perlahan mengikuti apa yang menguasainya.
Mungkin, yang sedang terjadi di sawah kita hari ini bukanlah petaninya berubah menjadi tentara. Mungkin yang berubah adalah cara negara memandang pertanian. Sawah diperlakukan seperti wilayah operasi. Persoalan pangan dibaca sebagai ancaman yang harus ditaklukkan. Maka solusi yang paling cepat muncul adalah komando.
Padahal sawah bukan medan tempur. Padi tidak tumbuh karena aba-aba. Tanah juga tidak menjadi subur hanya karena lebih banyak orang berdiri mengawasinya.
Di situlah pertanyaan kecil ini muncul. Mengapa setiap kali negara berhadapan dengan persoalan yang rumit, jalan yang paling mudah terlintas justru membentuk komando? Mengapa lebih mudah mengerahkan batalyon daripada menguatkan penyuluhan? Mengapa lebih cepat membeli ribuan pompa daripada mengajari petani mengelola usaha taninya sendiri?
Barangkali karena membangun pengetahuan memang pekerjaan yang sunyi. Orang yang sedang belajar tidak menghasilkan foto yang heroik. Perubahan cara berpikir tidak bisa dipotret untuk laporan seratus hari kerja. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara proyek selalu dituntut selesai sebelum masa jabatan berganti.
Maka negara sering kali lebih percaya pada proyek daripada proses. Lebih percaya pada organisasi daripada pendidikan. Lebih percaya pada komando daripada percakapan.
Padahal hambatan terbesar pertanian kita bukan semata-mata kurangnya alat. Yang lebih mendasar justru kurangnya pengetahuan yang terus diperbarui, lemahnya kelembagaan petani, dan minimnya sarana yang memungkinkan mereka mengelola hasil panen dengan lebih baik.
Kelompok tani yang dahulu dibayangkan sebagai ruang belajar bersama, perlahan berubah menjadi meja administrasi pupuk. Pertemuan lebih banyak membahas jatah dan berkas daripada gagasan. Energi habis untuk mengurus distribusi bantuan, bukan untuk membangun kemandirian.
Kalau keadaan ini terus berlangsung, ketahanan pangan memang mungkin tercapai di atas kertas. Tetapi kedaulatan pangan akan tetap terasa jauh. Sebab ketahanan yang dibangun dengan komando akan selalu bergantung pada komando berikutnya.
Sawah membutuhkan disiplin, tetapi disiplin tidak selalu lahir dari aba-aba. Ia lebih sering tumbuh dari pengetahuan, pengalaman, dan kesabaran orang yang setiap hari menginjak lumpur.
Kalau itu yang kita rawat, mungkin kita tidak perlu lagi menjadi kami tentaranen. Cukuplah menjadi petani yang merdeka di lahannya sendiri. Sebab pada akhirnya, isi piring kita dijaga bukan oleh gagahnya nama sebuah batalyon, melainkan oleh cerdasnya orang-orang yang menanam kehidupan di atas tanah.
Ditulis oleh: Khafidh

Join the conversation