Demo Itu Sah, Nyinyir Itu Pilihan

Demonstrasi itu sah dalam demokrasi. Masalahnya bukan aksinya, tapi cara kita menilainya—seringkali terlalu cepat nyinyir.

Untuk kesekian kalinya, ini semacam pengingat kecil—buat yang refleks nyinyir tiap lihat orang turun ke jalan.

Demonstrasi itu bukan tindakan ilegal. Ia bagian dari mekanisme demokrasi yang memang disediakan negara. Jadi agak aneh kalau ada yang melabelinya sebagai bughot, seolah-olah setiap suara yang keras itu otomatis pemberontakan. Logikanya seperti loncat tanpa tangga.

Bughot itu lahir dari konteks kekuasaan yang tidak memberi ruang kritik. Indonesia, setidaknya di atas kertas, bukan model begitu. Maka menyamakan demonstrasi dengan pemberontakan, selain tidak tepat, juga terdengar seperti malas mikir tapi ingin tetap terlihat tegas.

Lalu muncul kalimat sakti:
“Demonstrasi banyak mudaratnya.”

Masalahnya, kita sering gagal membedakan antara sesuatu yang baik dengan cara orang melakukannya. Sholawat itu baik. Tapi kalau ada majelis yang isinya joget campur baur sampai lupa waktu, apakah lalu sholawatnya yang salah? Rasanya tidak.

Demonstrasi juga begitu. Ada yang rusuh, iya. Tapi yang damai jauh lebih banyak. Memilih satu-dua kejadian buruk untuk menghakimi semuanya—ya itu namanya cherry picking. Biasanya muncul kalau argumen sudah mulai ngos-ngosan.

Dan jangan naif juga. Kekuasaan yang tidak nyaman dengan kritik punya cara halus untuk membentuk persepsi. Demonstrasi dibingkai sebagai sumber keruwetan. Dalam banyak kasus, kerusuhan justru “dibutuhkan” supaya ada alasan untuk menertibkan. Sisanya? Tinggal urusan narasi.

Ada juga yang bilang:
“Demonstrasi tidak menyelesaikan masalah.”

Ya memang. Tapi ini ikhtiar, bukan sulap. Penyakit saja butuh proses, apalagi urusan bangsa yang sudah lama numpuk. Tidak semua usaha harus langsung berbuah hasil.

Pada akhirnya, mencintai negeri ini tidak cuma satu cara. Turun ke jalan itu salah satunya. Kalau belum bisa ikut, tidak masalah. Tapi jangan sampai posisi paling aman—diam—justru dipakai untuk merendahkan yang sedang berusaha.

Daripada nyinyir, mungkin bisa diganti dengan yang lebih sederhana:
“Hati-hati di jalan, bro. Jangan lupa doakan yang baik.”
atau,
“Kalau ada yang tiba-tiba bikin ricuh, waspada. Bisa jadi itu bukan bagian dari kalian.”

Tidak harus setuju. Tapi setidaknya, tidak ikut menambah keruh.


© Ngudar Rasa
Ditulis oleh: Pemilik Blog