Republik Buzzer

Ketika narasi lebih cepat dari solusi, dan buzzer terasa seperti juru bicara bayangan negara. Refleksi tentang riuh yang mengaburkan kebenaran.

Belakangan ini ramai kawan-kawan mahasiswa yang turun memperjuangkan sesuatu yang mereka sebut sebagai suara rakyat. Ada yang setuju, tentu saja. Ada pula yang sejak awal tidak percaya.

Itu biasa. Perbedaan sikap memang bagian dari hidup bersama.

Tapi yang agak janggal justru datang dari arah sebaliknya.

Kontra terhadap gerakan itu bermunculan dengan pola yang nyaris seragam. Diksinya mirip, nadanya sama, bahkan cara marahnya pun terasa seperti hasil cetakan. Tidak banyak ruang untuk perbedaan, apalagi kreativitas. Seolah-olah keberatan pun harus mengikuti template tertentu.

Dan di titik itu, muncul pertanyaan kecil: ini benar-benar perdebatan, atau sekadar pengulangan?

Sekarang ini, setiap ada masalah, yang bergerak lebih dulu bukan solusi, tapi narasi. Seolah-olah yang penting bukan apa yang terjadi, melainkan bagaimana ia diceritakan.

Apa yang kita lihat di linimasa sering kali bukan lagi upaya memahami persoalan, melainkan perlombaan menguasai percakapan. Siapa yang paling cepat, paling ramai, dan paling konsisten mengulang, dialah yang tampak benar.

Bahkan kadang, yang lebih mengherankan, muncul juga semacam “demo tandingan” yang sulit dipahami arahnya. Bukan karena berbeda pandangan, tapi karena cara menyampaikannya terasa janggal. Argumennya tipis, gesturnya berlebihan, dan jika boleh sedikit jujur, kadang tampak goblog—jenis kebodohan yang rapi, seragam, dan entah kenapa muncul bersamaan.

Di situ, kita seperti tidak sedang menyaksikan perbedaan pendapat yang sehat, melainkan sesuatu yang dipaksakan untuk terlihat sebagai tandingan.

Dan ketika pola-pola seperti ini muncul berulang, sulit untuk tidak menduga bahwa ada sesuatu yang sedang bekerja di balik layar. Bukan sekadar warga yang berbeda pandangan, tapi barisan suara yang diarahkan untuk menjaga satu arah tertentu.

Buzzer, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar pendukung yang berisik. Ia berubah menjadi semacam alat pengatur suasana. Tugasnya bukan menjelaskan, tapi memastikan bahwa percakapan tidak pernah benar-benar sampai ke inti persoalan.

Isu yang mestinya bisa dibahas dengan jernih, perlahan berubah menjadi riuh yang melelahkan. Kritik tidak dijawab, tapi ditenggelamkan. Pertanyaan tidak diluruskan, tapi dialihkan.

Dan anehnya, kita mulai terbiasa.

Kita tahu ada yang tidak beres, tapi lama-lama memilih menganggapnya sebagai bagian dari mekanisme. Seolah memang begitulah cara negara berkomunikasi hari ini: tidak lagi lewat penjelasan langsung, tapi melalui gema yang terus dipantulkan.

Di titik itulah, istilah Republik Buzzer terasa tidak lagi berlebihan.

Bukan karena negara benar-benar berubah bentuk, tapi karena cara ia hadir di ruang publik mulai bergeser. Dari yang seharusnya jelas dan bertanggung jawab, menjadi samar dan tersebar.

Yang berbicara bukan satu suara, tapi banyak. Namun justru karena terlalu banyak, kita kesulitan menemukan mana yang benar-benar bisa dimintai penjelasan.

Dan mungkin, itu yang paling berbahaya.

Bukan karena kita tidak lagi punya informasi, tapi karena kita kehilangan kejelasan.

Dan tanpa kejelasan, kepercayaan pelan-pelan ikut menghilang.


© Ngudar Rasa
Ditulis oleh: Pemilik Blog