MLM, Bisnis yang Menjanjikan
Beberapa waktu lalu, ada saja teman yang dengan penuh semangat menawarkan sebuah “bisnis masa depan”. Modalnya kecil, katanya. Tapi hasilnya—wah—tidak main-main. Dari umrah keluarga, rumah mewah, sampai beli kendaraan apa pun, semua terasa tinggal menunggu waktu.
Bisnis apa ini? Nanti dulu. Kalau langsung disebut, biasanya orang malah tergesa-gesa ingin kaya, bukan menikmati prosesnya.
Katanya, ini bukan bisnis biasa.
"Dengan modal 150 ribu, kamu sudah bisa punya hak bisnis sendiri. Ada surat izin usaha atas nama pribadi. Kamu tinggal jalanin. Kelak kamu akan sukses. Kesempatan tidak datang dua kali."
Kalimat seperti itu diulang-ulang, seperti kaset lama yang tidak pernah bosan diputar. Sambil itu, ditunjukkan pula beberapa lembar “surat berharga”. Katanya bukti legalitas. Tapi entah kenapa, rasanya surat itu tidak akan laku kalau dibawa ke bank untuk jaminan pinjaman.
Di tempat lain, suasananya lebih dramatis. Diputar video tentang orang-orang dengan keterbatasan—tunanetra, disabilitas—yang berhasil “sukses”. Lalu seorang motivator berdiri di depan, menyusun kalimat yang membakar semangat:
"Mereka yang serba kekurangan saja bisa, apalagi kita. Kita berproses bersama, sukses bersama."
Tak lupa, foto mobil mewah dan rumah megah ikut dipamerkan. Katanya hasil dari bisnis ini.
"Ini bisnis berjejaring. Bukan MLM. Bukan money game."
Menariknya, mereka sangat alergi dengan istilah MLM atau money game. Mereka bilang, ini berbeda. Katanya ada produk, ada target, ada kerja keras.
Tapi yang jarang diceritakan: bonus terbesar justru datang dari merekrut anggota baru, bukan dari menjual produk.
Sebenarnya ada istilah yang lebih jujur untuk model seperti ini: skema ponzi. Hanya saja, istilah itu memang kurang enak didengar.
Produknya macam-macam. Dari minuman energi, suplemen kesehatan, alat penghemat bahan bakar, sampai asuransi. Tapi ujung-ujungnya tetap sama: siapa yang berhasil membawa orang baru, dia yang dapat bonus.
Kalau tidak bisa merekrut? Siap-siap saja dikasih target baru. Produk baru. Biasanya produk yang… ya, tidak terlalu laku di pasar.
Dalam skema seperti ini, yang di atas menikmati. Yang di bawah menanggung. Semakin tinggi posisi, semakin banyak keuntungan. Semakin bawah, semakin tipis harapan.
Produk? Sering kali hanya jadi alat bantu. Sekadar “bungkus” supaya sistemnya terlihat seperti bisnis sungguhan.
Dan harganya? Kadang tidak masuk akal. Mahal, tapi manfaatnya samar.
Ciri lainnya juga mudah dikenali: mimpi yang terlalu besar, janji yang terlalu cepat, dan cerita sukses yang lebih banyak daripada cara mencapainya.
Kalau suatu hari ada tawaran bisnis dengan janji miliaran dari modal recehan, mungkin kita tidak perlu terlalu lama berpikir.
Memang, bisnis ini menjanjikan. Menjanjikan kesuksesan, kekayaan, bahkan kebahagiaan dunia akhirat. Menjanjikan apa saja yang enak didengar.
Tapi ya namanya janji—tidak selalu harus ditepati.
Ketika sistemnya runtuh, yang di atas biasanya sudah lebih dulu pergi. Membuka “kesempatan baru” di tempat lain. Dengan janji yang… ya, kurang lebih sama.
Begitu terus polanya. Berulang. Seolah-olah kita sedang diajak percaya bahwa suatu hari nanti, semua orang akan jadi kaya raya.
Padahal, kalau semua orang kaya… siapa yang akan jadi korban berikutnya?
Ditulis oleh: Pemilik Blog

Join the conversation